Sabtu, 29 Maret 2008

aborsi

Mengapa Harus Aborsi

Aborsi ditempuh karena terjadi kehamilan yang tidak diinginkan. Sementara, kehamilan yang tidak di inginkan merupakan hasil hubungan seksual. Dengan demikian, inti permasalah aborsi terletak pada perilaku seksual. Perilaku seksual masyarakat khususnya remaja sudah mengalami perubahan. “telah terjadi perubahan pandangan terhadap seks yang mengakibatkan perubahan perilaku seksual. Seks yang dahulu dianggap sakral dan harus dilakukan dalam sebuah ikatan perkawinan kini sudah dianggap tidak lagi sakral. Anggapan yang berkembang saat ini, seks tidak ada kaitannya dengan perkawinan....

Perubahan pandangan ini mengakibatkan maraknya hubungan seks pra nikah yang pada umumnya sukar dijamin untuk dilakukan hanya dengan satu pasangan. Di pihak lain pengetahuan seks remaja sangat kurang karena remaja memang tidak pernah mendapatkan pendidikan seks yang benar, baik di sekolah maupun dalam keluarga. Sementara itu, informasi seks yang tidak benar dari VCD porno, situs internet porno (yang baru-baru ini sudah ditutup) atau buku poro beredar luas, juga sarana teknologi handphone yang telah menjalar hingga ke pelosok desa dijadikan alat untuk menyebarluaskan sebuah film atau gambar.

Dorongan ini disalurkan melalui hubungan seksual pra nikah yang tidak aman sehingga terjadi kehamilan. “pada umumnya pilihan pertama jika terjadi kehamilan yang tidak diinginkan adalah aborsi. Menikah biasanya dijadikan pilihan kedua.

Perubahan pandangan dan perilaku seks, terjadi dimana-mana, sehingga praktek aborsi terjadi baik di kota besar, kecil atau bahkan desa sekalipun, pernah ada sebuah penelitian yang membandingkan perilaku seksual di desa dan di kota. Hasilnya menunjukan tidak ada perbedaan. perilakunya sama. Pengetahuan tentang seks pun sama-sama kurang.

Boleh ngga yah Aborsi
Saya berani sumpah dokter di seluruh dunia akan sangat menghormati hidup setiap insan dari proses pembuahan terjadi. Tetapi di pihak lain ada tuntutan untuk memikirkan kasus-kasus seperti kegagalan KB, pemerkosaan dan lain-lain yang hingga kini tetap dibenarkan oleh undang-undang.”mengenai hal itu dibutuhkan pemikiran dan perenungan dari banyak ahli.uh deh complicated banget.

Pendidikan seks yang nyata
Perubahan pandangan tentang seks, juga melahirkan fenomena seks bebas atau hubungan seks yang dilakukan dengan lebih dari satu pasangan. Fenomena ini semestinya bisa dibendung. Hanya saja menyayangkan penanganan yang tidak holistik, pelarangan seks bebas, seringkali dilakukan hanya dengan menggunakan dalih dosa menurut agama. Padahal itu tidak menyelesaikan masalah.
Bangsa kita sangat prihatin melihat kurangnya pendidikan seks yang diberikan kepada remaja. Kalaupun ada, pendidikan seks yuang diberikan acapkali terlalu naif. Pendidikan seks perlu juga mengantisipasi remaja-remaja yang telah terlanjur melakukan hubugan seks.
Ada beberapa anjuran unutk kelompok ini
Pertama: mereka didorong untuk berhenti melakukannya.
Kedua: lakukan hubungan seks hanya dengan satu pasangan.
Ketiga: hindari akibat-akibat seperti kehamilan, penyakit kelamin dan lain-lain

Apa yang harus dilakukan yang belum pernah melakukan hubungan seks
Kepada semua remaja yang belum pernah melakukan hubungan seks perlu dijelaskan bahwa hubungan seksual bukan satu-satunya cara untuk mengekspresikan dorongan seksual. Dorongan seksual sendiri sebenernya bisa dikontrol. Sayangnya, dua hal ini, jarang sekali ditekankan baik dalam keluarga maupun di sekolah.”kalau boleh jujur kita terlalu banyak kemunafikan dalam menyikapi berbagai masalah yang berkaitan dengan seks, seolah-olah kita adalah bangsa yang bebas akan itu.

Mengapa banyak remaja yang melakukan Aborsi
Ada dua penyebab yang mendorong fenomena banyaknya remaja yang melakukan Aborsi
Pertama, karena adanya perubahan norma sosial di masyarakat
Kedua, makin dominannya sikap permisif pada masyarakat dalam arti tidak lagi ketat menjaga tata nilai.

Saat ini perkembangan teknologi sangat maju, informasi mengenai apa saja bisa didapat dengan mudah, termasuk soal seks. Ini bisa berbahaya, terutama jika remaja belum mempunyai filter karena tidak pernah mendapat penyuluhan tentang kesehatan reproduksi. Mereka tidak tahu bahayanya melakukan hubungan seks di luar nikah. Tetapi remaja yang sudah diberikan penyuluhan pun tidak serta merta lepas dari perilaku seks bebas,

Mengenai penyuluhan seks, keluaraga seharusnya bisa lebih berperan, dalam arti memberi penjelasan kepada anak seputar masalah seksual dan reproduksi. Selain itu ia juga mengingatkan agar orangtua selalu menjaga kedekatan emosional dengan anak. Orang tua jangan sampai hanya berfungsi sebagai penyedia kebutuhan pokok, tetapi juga harus bisa berperan sebagai teman curhat anak.

Remaja paling tidak suka diguruin, diomelin, ditanyain, masalah pelajaran dan lain sebagainya. Sebagai orang tua kita harus memahami permasalah ini. Dengan demikian hubungan orang tua dan anak akan terjalin dengan baik. Begitu hubungan sudah terjalin, akan lebih mudah mendapatkan informasi dari si anak.

1 komentar:

infogue mengatakan...

Artikel di blog Anda bagus-bagus. Agar lebih bermanfaat lagi, Anda bisa lebih mempromosikan dan mempopulerkan artikel Anda di infoGue.com ke semua pembaca di seluruh Indonesia. Telah tersedia plugin / widget kirim artikel & vote yang ter-integrasi dengan instalasi mudah & singkat. Salam Blogger!

http://infogue.com
http://18-thn.infogue.com/aborsi